Dalam kehidupan manusia,
setiap harinya manusia tidak dapat terlepas dari kebutuhan akan informasi dari
media massa. Khalayak bahkan menuntut diri untuk mengetahui segala bentuk
informasi. Oleh karena itu, tidak dipungkiri jika media massa menjadi kebutuhan
pokok bagi khalayaknya. Dapat ditegaskan bahwa media massa adalah alat utama
dalam komunikasi massa.
Sejak tahun 1964 komunikasi massa telah
mencapai publik dunia secara langsung dan serentak. Melalui satelit komunikasi sekarang
ini kita dimungkinkan untuk menyampaikan informasi (pesan) berupa data, gambar,
maupun suara kepada jutaan manusia di seluruh dunia secara serentak.
Perkembangan teknologi komunikasi/informasi yang bergerak cepat membawa kita
menuju era masyarakat informasi, dimana hampir segala aspek kehidupan
dipengaruhi oleh keberadaan media yang semakin jauh memasuki ruang kehidupan
manusia.
Wilbur Schramm menyatakan bahwa luas
sempitnya ruang kehidupan seseorang, yang awalnya ditentukan pada kemampuan
baca tulis, selanjutnya ditentukan oleh seberapa banyak ia bergaul dengan media
massa. Artinya media massa sebagai
alat utama dalam komunikasi massa memiliki pengaruh yang
signifikan pada kehidupan manusia
Pengaruh
komunikasi massa yang di timbulkan
kepada kehidupan manusia, pasti ada efek terhadap individu, masyarakat,
dan kebudayaan. Efek
yang di timbulkan dapat dari
efekk afektif, efek kognitif, hingga efek behavioral.
1.
Apakah
Komunikasi Massa ?
2.
Bagaimana Efek
Komunikasi Massa terhadap Individu ?
3.
Bagaimana Efek
Komunikasi Massa terhadap Masyarakat Sosial ?
4.
Bagaimana Efek
Komunikasi Massa terhadap Kebudayaan ?
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui makna dari komunikasi
massa, mengetahui efek dari komunikasi massa terhadap individu, masyarakat
sosial, dan kebudayaan serta memenuhi tugas mata kuliah Teknik Komunikasi.
Komunikasi massa adalah
suatu proses melalui komunikator yang menggunakan media massa untuk
menyebarluaskan pesan-pesan secara luas dan terus menerus menciptakan
makna-makna serta diharapkan dapat memengaruhi khalayak yang besar dan beragam
dengan melalui berbagai cara (DeFleur & McQuail.1985, McQuail.2000). Setiap
aspek komunikasi massa adalah bermedia (mediated) dan interaksi bermedia
berbeda dengan interaksi personal. Pertama, potensi masukan yang diindera
penerima lebih terbatas. Kedua, penerima pesan bermedia mempunyai sedikit
control atau tidak mempunyai control sama sekali atas sumber-sumbernya – yakni,
umpan baliknya sangat terbatas. Akhirnya sumber-sumber pesan bermedia diketahui
baik secara terbatas atau tidak diketahui sama sekali, hanya dibayangkan.
Ciri paling utama dari media
massa adalah bahwa mereka dirancang untuk menjangkau banyak orang. Khalayak
potensial dipandang sebagai sekumpulan besar dari konsumen yang kurang lebih
anonym, dan hubungan antara pengirim dan penerima dipengaruhi olehnya.
‘pengirim’ seringkali merupakan lembaga itu sendiri atau seorang komunikator
professional (jurnalis, presenter, produser, penghibur, dan lain-lain) yang
dipekerjakan oleh lembaga tersebut. Jika bukan, maka suara masyarakat yang
mendapatkan atau membeli akses kepada saluran media (pengiklan, politisi,
pengkhotbah, pengacara, dan sebagainya). Hubungan tersebut secara tidak
terhindarkan bersifat satu arah, satu sisi, dan tidak personal dan terdapat
jarak sosial dan antarpengirim dan penerima. Pengirim biasanya memiliki
kekuasaan lebih besar, kehormatan, atau keahlian daripada penerima.
Komunikasi massa dalam prosesnya melibatkan
banyak orang yang bersifat kompleks dan rumit. Menurut McQuail
(1999) proses komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk:
1.
Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam
skala besar. Jadi proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi
kemasyarakatan dalam skala yang besar, sekali siaran atau pemberitaan jumlahdan
lingkupnya sangat luas dan besar.
2.
Proses komunikasi massa cenderung dilakukan melalui
model satu arah yaitu dari komunikator kepada komunikan atau media kepada
khalayak. Interaksi yang terjadi sifatnya terbatas.
3.
Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris
antara komunikator dengan komunikan. Ini menyebabkan komunikasi antara
mereka berlangsung datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi sensasi
emosional sifatnya sementara dan tidak permanen.
4.
Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal
atau non pribadi dan anonim.
5.
Proses komunikasi massa juga berlangsung didasarkan
pada hubungan kebutuhan-kebutuhan di masyarakat. Misalnya program akan
ditentukan oleh apa yang dibutuhkan pemirsa. Dengan demikian media massa
juga ditentukan oleh rating yaitu ukuran di mana suatu program di jam yang sama
di tonton oleh sejumlah khalayak massa.
Efek
komunikasi
massa berkaitan
erat dengan karakter yang dimiliki oleh seseorang. Dalam
kehidupan manusia, setiap individu memiliki karakter yang berbeda-beda. Berbagai efek komunikasi massa yang dapat memengaruhi individu, baik dari segi kognitif, afektif, dan behavioral. Berikut penjelasannya:
a)
Efek Kognitif
Efek kognitif
adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya informatif bagi
dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa
dapat membantu individu dalam
mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan
kognitifnya. Contohnya, dengan kita mendapatkan
informasi dari media massa misalnya Koran Seputar Indonesia, kita akan menduga
bahwa Indonesia ini dipenuhi dengan tindakan perkosaan, penganiyaan dan
kriminal. Dengan melihat acara kriminal di televisi, kita cenderung mengatakan
bahwa di sekitar kita sudah tidak aman lagi. Dengan demikian jelaslah bahwa
naik surat kabar maupun televisi dapat menonjolkan situasi atau orang tertentu
di atas situasi atau orang yang lain. Media massa
melaporkan dunia nyata secara selektif, maka sudah tentu media massa akan
mempengaruhi pembentukan citra tentang lingkungan sosial yang dan tidak cermat.
Efek Prososial Kognitif adalah bagaimana media massa memberikan manfaat yang
dikehendaki oleh masyarakat. Bila televisi menyebabkan kita lebih mengerti
tentang pendidikan yang baik dan benar, maka televisi telah menimbulkan efek
prososial kognitif.
b)
Efek afektif
Efek ini
kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa
bukan sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu,
khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih,
gembira, marah dan sebagainya. Kegembiraan juga tidak dapat diukur dengan
tertawa keras ketika menyaksikan adegan lucu. Tetapi para peneliti telah
berhasil menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas rangsangan
emosional pesan media massa. Faktor-faktor tersebut antara lain :
Ø Suasana
emosional, menonton sinetron di televisi atau membaca novel akan dipengaruhi
oleh suasana emosional kita. Adegan-adegan lucu akan menyebabkan kita tertawa
terbahak-bahak bila kita menontonnya dalam keadaan senang.
Ø Skema Kognitif,
merupakan naskah yang ada dalam pikiran kita yang menjelaskan tentang alur
peristiwa. Kita tau bahwa dalam sebuah film action sang jagoan pada akhirnya akan
menang.
Ø Suasana
Terpaan (Setting Exposure). Kita akan tertarik menonton tayangan sesuai yang
kita rasakan. Misalnya ketika kita sedang sakit gigi, kita akan lebih tertarik
menyaksikan tayangan iklan obat sakit gigi dari pada menyaksikan tayangan
sinetron.
Ø Predisposisi
Individual, mengacu pada karakteristik khas individu. Orang yang melankolis
cenderung menanggapi tragedi lebih emosional daripada orang yang periang. Orang
yang periang akan senang bila melihat adegan-adegan lucu atau film komedi
daripada orang yang melankolis. Beberapa penelitian membuktikan bahwa acara
yang sama bisa ditanggapi berlainan oleh orang-orang yang berbeda.
Ø Faktor
Identifikasi, menunjukkan sejauh mana orang merasa terlibat dengan tokoh yang ditonjolkan dalam media massa. Dengan
identifikasi, penonton, pembaca atau pendengar menempatkan dirinya dalam posisi
tokoh tersebut. Misalnya pada saat pertandingan FIFA tahun lalu, TIMNAS
Indonesia menang melawan Malaysia, penggemar sepak bola tanah air merasa ikut
gembira
c)
Efek Behavioral
Efek behavioral
merupakan akibat yang timbul pada diri individu dalam bentuk perilaku, tindakan
atau kegiatan. Contohnya pada adegan kekerasan di TV membuat orang menjadi beringas,
siaran memasak di tv membuat ibu-ibu lebih gemar memasak dan kreatif. Namun ada
juga laporan bahwa film tidak sanggup memotivasi remaja perkotaan untuk
menghindari pemakaian obat-obat terlarang.
Sebagai mana komunikasi massa
memiliki keterkaitan dengan media massa. Keberadaaan media massa dalam
menyajikan informasi cenderung memicu perubahan serta banyak membawa pengaruh
pada penetapan pola hidup masyarakat. Beragam informasi/pesan yang disampaikan
dinilai dapat memberi pengaruh yang berwujud positif maupun negatif.
Masyarakat akan menilai berdasarkan
pembawaan, interaksi, serta cara berfikir seseorang sesuai dengan apa yang
ditunjukkan oleh media. Media massa secara tidak langsung akan mengajak
masyarakat untuk memberikan penilaian yang sama terhadap seseorang berdasarkan
penilaian dari media massa itu sendiri.Secara perlahan-lahan namun efektif,
media massa membentuk pandangan masyarakat terhadap bagaimana seseorang melihat
pribadinya dan bagaimana seseorang seharusnya berhubungan dengan dunia
sehari-hari.
Pesan/informasi yang disampaikan
oleh media massa bisa jadi mendukung masyarakat menjadi lebih baik, sehingga
membuat masyarakat merasa senang akan diri mereka dan merasa cukup. Namun, bisa
juga sebaliknya yakni mengempiskan kepercayaan dirinya atau merasa rendah dari
yang lain. Pergeseran pola tingkah laku yang diakibatkan oleh media massa dapat
terjadi dalam kehidupan bermasyarakat. Wujud perubahan pola tingkah laku
lainnya yaitu gaya hidup.Perubahan gaya hidup dalam hal peniruan atau imitasi
secara berlebihan terhadap diri seorang firgur yang sedang diidolakan
berdasarkan informasi yang diperoleh dari media massa. Biasanya seseorang akan
meniru segala sesuatu yang berhubungan dengan idolanya tersebut baik dalam hal
berpakaian, berpenampilan, potongan rambutnya ataupun cara berbicara yang
mencerminkan diri idolanya (Trimarsanto, 1993:8). Secara sosio-psikologis, arus
informasi yang terus menerpa kehidupan kita akan menimbulkan berbagai pengaruh
terhadap perkembangan jiwa, khususnya untuk anak-anak dan remaja. Pola perilaku
mereka, sedikit demi sedikit dipengaruhi oleh apa yang mereka terima yang
mungkin melenceng dari tahap perkembangan jiwa maupun norma-norma yang berlaku.
Hal ini dapat terjadi bila tayangan atau informasi yang seharusnya dikonsumsi
oleh orang dewasa sempat ditonton oleh anak-anak (Amini, 1993)
Komunikasi
massa tidak hanya berpengaruh terhadap individu maupun masyarakat sosial,
melainkan juga memiliki pengaruh besar terhadap kebudayaan. Dalam pembahasan
mengenai efek komunikasi massa terhadap kebudayaan, digunakan landasan teori Cultural Studies, dimana manusia,
komunikasi, masyarakat, dan budaya dianggap saling berkaitan dan memiliki
pengaruh satu sama lain. Seiring dengan berkembangnya zaman, komunikasi massa
yang disebarluaskan melalui media massa sudah dianggap penting, sehingga
menimbulkan ketergantungan bagi
audiance,
baik itu dalam mencari berbagai informasi, pengetahuan, maupun dalam hal
menyelesaikan suatu masalah. Hal tersebut dapat memberikan dampak
terpengaruhnya pemikiran-pemikiran sehingga terjadi perubahan kebudayaan, baik
itu perubahan secara positif maupun negatif. Jenis-jenis efek yang
dapat terjadi pada kebudayaan akibat adanya komunikasi massa dapat dibedakan
menjadi tiga, yaitu:
a) Kognitif
Efek kognitif adalah
akibat yang timbul pada diri komunikan yang bersifat informatif bagi dirinya.
Efek kognitif membahas bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi
yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya. Terhadap
kebudayaan, komunikasi massa dapat pula memberikan efek timbulnya stereotip,
dimana terbentuknya gambaran umum tentang individu, kelompok, profesi, atau
masyarakat yang tidak berubah-ubah, bersifat klise, dan seringkali timpang dan
tidak benar. Sebagai contoh, komunikasi massa memberikan suatu informasi bahwa
masyarakat suku B selalu melakukan kekerasan, sehingga masyarakat lainnya
beranggapan bahwa seluruh masyarakat B memiliki sifat yang keras dan kasar.
Tetapi dengan adanya
komunikasi massa, dapat timbul pembentukan sikap positif, penyampaian
nilai-nilai, serta perluasan sistem keyakinan masyarakat. Contohnya, apabila
suatu media massa menyampaikan informasi dengan menggunakan bahasa Indonesia
yang baik dan benar, maka suatu budaya khususnya
masyarakat Indonesia akan terdorong untuk menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar pula.
b) Afektif
Komunikasi massa tidak
sekadar menyampaikan sebuah informasi kepada komunikan, melainkan dapat
menimbulkan dampak berupa perasaan-perasaan yang mewakili, seperti ketakutan
atau kecemasan, gembira, marah, terharu, dan lain sebagainya. Contohnya adalah ketika suatu
masyarakat mengetahui semakin mudahnya budaya barat masuk ke Indonesia melalui berbagai media massa, timbul kecemasan masyarakat terutama kekhawatiran orangtua akan dampak yang didapatkan pada anak-anak mereka yang hanya bisa meniru tanpa memilah mana yang baik.
Adapun contoh lain yang dapat memberikan dampak posiif, yakni masyarakat senang bisa mengenal budaya lain baik dari luar negeri
maupun dalam negeri, sehingga mereka bisa mengetahui banyak informasi mengenai
budaya dari daerah atau negara lain.
c) Behavioral
Efek behavioral
merupakan akibat yang timbul dari proses komunikasi massa, yang bebentuk
perilaku, tindakan, kegiatan, serta kebiasaan. Behavioral dapat memberikan dampak lain,
seperti mengaktifkan atau meredakan, dapat membentuk
isu tertentu atau mencari penyelesaiannya, dan
menjangkau serta
menyediakan strategi untuk suatu aktivitas
(menyebabkan perilaku dermawan). Contohnya komunikasi massa tentu saja berhubungan
dengan media massa. Yang mana saat ini media massa yang paling populer adalah
gadget. Ketika seseorang terlalu focus atau lebih banyak waktunya dengan dunia
maya, orang tersebut otomatis tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya
sehingga apabia seseorang tersebut yang seharusnya ketika bertemu dengan orang
lain harus menyapa, tapi justru menjadi orang yang tidak peduli dengan
lingkungan sekitarnya. Hal itu menyebabkan meningkatnya
kebudayaan individualisme, sehingga berkurangnya rasa kepedulian terhadap
sesama.